PPadangsidempuan Embun
Budaya & Adat Batak Angkola-Mandailing (Ulos, Tortor, Horja Godang)

Horja Godang: Ketika Marga Angkola dan Mandailing Bersatu dalam Pesta Adat di Padangsidempuan

Horja Godang di Padangsidempuan mempertemukan marga Angkola dan Mandailing dalam pesta adat: ulos, tortor, dan gondang sabangunan.

Horja Godang: Ketika Marga Angkola dan Mandailing Bersatu dalam Pesta Adat di Padangsidempuan

Poin Penting

  • Horja Godang adalah pesta adat besar masyarakat Batak Angkola dan Mandailing.
  • Pelaksanaannya di Padangsidempuan melibatkan banyak marga dari dua sub-etnis.
  • Ulos, tortor, dan gondang sabangunan menjadi unsur utama rangkaian acara.
  • Dalihan Na Tolu menjadi prinsip kekerabatan yang mengatur peran peserta.
  • Padangsidempuan merupakan pusat budaya Angkola di Sumatera Utara bagian selatan.

Apa Itu Horja Godang

Horja Godang adalah pesta adat berskala besar dalam tradisi Batak Angkola dan Mandailing. Kata horja merujuk pada kerja bersama atau pesta, sedangkan godang berarti besar. Pelaksanaannya menandai peristiwa penting: pernikahan anak sulung, pindah rumah, atau penghormatan kepada orang tua. Di Padangsidempuan, horja godang biasanya berlangsung beberapa hari dan melibatkan ratusan orang dari berbagai marga. Marga Angkola seperti Siregar, Harahap, dan Nasution kerap duduk satu meja dengan marga Mandailing seperti Lubis, Pulungan, dan Batubara. Yang membedakan horja godang dari pesta biasa adalah kehadiran seluruh sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu: kahanggi, anak boru, dan mora. Tanpa ketiganya, pesta tidak dianggap sah secara adat.

Ulos, Tortor, dan Gondang Sabangunan

Ulos menjadi pusat perhatian dalam horja godang. Kain tenun ini bukan sekadar busana, melainkan tanda restu dan ikatan. Pada momen tertentu, pihak mora menyerahkan ulos kepada anak boru sebagai simbol kasih sayang. Jenis ulos yang dipakai bisa berbeda, misalnya ulos godang atau ulos sadum, tergantung kesepakatan keluarga. Tortor, tarian adat, mengiringi setiap penyerahan ulos. Penari bergerak mengikuti gondang sabangunan, ansambel gendang yang terdiri dari taganing, gordang, dan ogung. Di Padangsidempuan, gondang sabangunan masih dimainkan oleh kelompok pargonsi yang diwarisi turun-temurun. Alunan gondang menentukan tempo tortor: lambat saat penghormatan, cepat saat sukacita. Tanpa gondang, horja godang terasa kehilangan rohnya. Karena itu, keluarga yang menggelar pesta biasanya memesan pargonsi jauh hari.

Mengapa Angkola dan Mandailing Bersatu

Secara historis, Angkola dan Mandailing memiliki akar kedekatan. Keduanya berada di wilayah Sumatera Utara bagian selatan, dengan bahasa dan adat yang saling terkait. Perbedaan tetap ada, misalnya dalam dialek atau urutan marga, tetapi horja godang menjadi ruang di mana perbedaan itu tidak menghalangi. Di Padangsidempuan, kota yang dikenal sebagai pusat budaya Angkola, orang Mandailing yang merantau ke kota ini sering pulang untuk ikut horja. Mereka membawa sumbangan, tenaga, dan doa. Sebaliknya, keluarga Angkola ikut hadir saat horja digelar di Mandailing. Pertemuan ini memperkuat jaringan kekerabatan yang sudah lama terbangun lewat pernikahan silang. Bagi warga, horja godang bukan hanya pesta, tetapi cara merawat hubungan antarmarga agar tidak putus oleh jarak dan waktu. Nilai itu tetap relevan di 2025, ketika banyak keluarga Padangsidempuan tersebar di berbagai kota.

Video Terkait

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa yang dimaksud Horja Godang?

Pesta adat besar masyarakat Batak Angkola dan Mandailing yang menandai peristiwa penting seperti pernikahan atau pindah rumah.

Di mana Horja Godang biasanya digelar?

Di Padangsidempuan dan wilayah Angkola-Mandailing lain, biasanya di halaman rumah keluarga atau balai adat.

Apa saja unsur utama dalam Horja Godang?

Ulos, tortor, dan gondang sabangunan, serta sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu.

Mengapa marga Angkola dan Mandailing bisa bersatu dalam Horja Godang?

Karena keduanya memiliki akar budaya dan bahasa yang dekat, serta jaringan pernikahan silang yang sudah lama terbangun.